Berpikir Kritis 2 : Sesat Pikir Ad Hominem

Logical Fallacy (sesat pikir) adalah sebuah elemen dalam argumen yang ketika digunakan  bisa mengacaukan sebuah diskusi dan menjebak perdebatan yang sehat menjadi debat kusir berputar-putar. Salah satu jenis Logical Fallacy yang sering terjadi dalam diskusi-diskusi di IRiS adalah Ad Hominem. Ad Hominem merupakan Logical Fallacy yang menyerang ke pribadi lawan debat, bukan argumennya. Fallacy ini digunakan dengan maksud trolling, provokasi, mengalihkan pembicaraan karena kehabisan argumen, dan character assassination.

Contoh penggunaan Ad Hominem adalah sebagai berikut:

X: “Apakah kita menjadi anti ilmu pengetahuan (anti-science) dan menerima mentah-mentah (taken for granted) klaim-klaim supranatural, tanpa memiliki keinginan untuk mencari faktanya atau klarifikasi? Justru disinilah pentingnnya Ilmu pengetahuan (science) digunakan, karena science memiliki ruang untuk diklarifikasi, diverifikasi, diduplikasi dan dikritik bahkan direvisi dengan teori baru.”

Y: “haha, mantab gan. anda telah kena virus barat.”

=======================================================

Cukup terlihat bukan? Argumen pertama menerangkan mengapa X memilih untuk menjadi rasional, dan argumen kedua menutup diskusi dengan melabeli X telah terkena virus barat (yang bagi Y itu adalah sebuah hal negatif) sehingga argumen X (dianggap) menjadi salah.

contoh lain adalah:

X: “Tingkat ekonomi tidak pernah berkorelasi dengan kepercayaan supranatural. Banyak orang2 kaya tetap percaya takhayul. Pembebasan diri terhadap delusi dan takhayul diakibatkan kemauan orang untuk merubah pola pikir secara lebih kritis, dan tidak mudah mempercayai suatu hal.”

Y: “wkwkwwk. sok tau”

========================================================

Dengan santainya Y menyerang X dan menganggapnya ‘sok tau’ sehingga semua argumen X ‘nampak’ salah karena hanya berisi ke-sok tau-an nya. Padahal yang sedang dibahas disini adalah mengenai kepercayaan supranatural, bukan apakah X adalah orang yang sok tahu atau tidak.

Masih banyak jenis-jenis Ad Hominem yang bisa dipelajari dari jagat internet, namun yang terpenting adalah mari kita hindari penggunaan Logical Fallacies dalam diskusi-diskusi sehat yang ada di IRiS. Bukankah yang kita inginkan dari sini adalah pengetahuan dan pandangan baru mengenai suatu hal? bukannya sekedar menjelekkan lawan diskusi dan merasa menang karena telah berhasil melabelinya buruk?

Abib

Indonesian Rationalist Institute (IRIs)

One Comment

  1. Tjandra Ariyanto Nice share. Lalu adakah cara mengcounter Ad Hominem, apakah dgn melakukan Ad Hominem lg? thanx.
    21 February 2011 at 12:09 · Like

    Abib Habiburrohman seperti yang telah ditulis di atas, Ad Hominem biasanya dilakukan untuk trolling ataupun mengalihkan pembicaraan.
    ketika kita terpancing dan membalasnya, kita akan terjebak pada debat kusir dan hilanglah esensi diskusi yang sebenarnya.
    mungkin lebih tepat untuk mengabaikan orang tersebut, lalu fokus pada apa yang sedang dibahas. (atau sedikit have fun dengan ikut bermain-main pada logika orang tersebut untuk memperlihatkan sejauh mana ‘kecerdasannya’) CMIIW
    21 February 2011 at 12:36 · Like

    Ribhararnus Pracutian Nice, Ad hominem itu seringkali kita jumpai di forum2 atheist, anti theist, atau forum beda agama. Saya sudah rasakan sendiri.
    21 February 2011 at 13:08 · Like

    Oov Auliansyah hehehehe.. udah ga aneh ketemu orang2 tipe “Y”.. Apalagi yg udah ga paham trus ngajuin teori aneh “udah dari sana nya”..”itu udah diatur tuhan”

    21 February 2011 at 13:29 · Like
    Abib Habiburrohman iyap, ketika udah gatau mau jawab apa ya paling mudah melakukan ad hominem ini. serang aja lawan debatnya dengan melabelinya ‘virus barat’, ‘sok tau’, ‘atheis’, ‘kafir’ dll. masalah selesai.
    huehehe
    @Ooy: yap, selain Ad Hominem, yang sering digunakan buat menutup diskusi dengan tidak elegan adalah ‘God of the gaps fallacy’, kalau udah balik ke ‘semua udah diatur Tuhan’, ya mau bahas apa lagi -_-
    21 February 2011 at 14:05 · Like

    Irres Ponorogo Dengan adanya mas abid sm0ga Iris menjadi lebih baik dr sebelumnya..
    21 February 2011 at 14:19 · Like

    Jang Tak ‎@Oov, dgn alasan itulah maka org bs dng seenaknya mengajukan “fakta” supranatural
    21 February 2011 at 14:24 · Like · 1

    Arif VirKill Yulian Yaa, dengan asumsi “Tidak bisa dijelaskan secara ilmiah berarti supranatural!”. ck ck ck…argument from ignorance.
    21 February 2011 at 21:58 · Like

    Abib Habiburrohman gak bisa dijelaskan tapi (ngaku) bisa melakukan. wow, hebat ya bisa ngelakuin sesuatu tanpa bener-bener tau apa yang dia lakuin.
    21 February 2011 at 22:00 · Like

    Jang Tak yg masih kuingat jelas, pernah ada org yg blg gini “enak ya jd org keturunan china krn ga bs disantet soalnya setan jawa ga ngerti tulisan mandarin lagian ga mungkin tanya2 sama setan china di sana, kan jauh lagian melewati laut, santet kan ga bs lewat laut” hahaha…
    bagaimana mungkin mistisisme dibela dgn alasan yg rasional?
    sgt aneh sekali jika dia mengagung2kan kepercayaan supranaturalnya padahal dia sendiri “berpijak di awang2″
    memakai alasan rasional utk membela kepentingan irasional tp sll menyudutkan yg rasional… sungguh aneh
    21 February 2011 at 22:57 · Like

    Arif VirKill Yulian Ah, mereka selalu menciptakan rasionalitasnya sendiri yang disandarkan pada mitos. Ini menarik. Misal: Ilmu getaran merpati putih gagal dibuktikan di JREF karena ‘melewati laut’. Bagi mereka alasan ini rasional karena mereka percaya ilmu seperti itu anti air. well, atau pesugihan yang gagal karena mantranya salah hitung. Tidak disebut 1000 kali tapi kelebihan satu sehingga jadi 1001 kali. Itu adalah rasionalitas versi mereka. IMO

    21 February 2011 at 23:04 · Like
    Jang Tak sebenarnya alasan “tdk bs lewat laut” ini dipakai dgn tujuan melokalisir kepercayaan spy kedoknya tdk terbongkar, dan kebodohan tetap “terpelihara”
    btw, ada lg cerita lucu. teman saya cerita kl dia sering kecurian dan diduga itu tuyul, padahal sdh dikasih cermin, sisir ato mainan anak2 ktnya itu penangkal spy tuyulnya ga jd nyuri tp malah bermain, soalnya tuyul itu anak kecil. sebenarnya aku bingung dgn penjelasannya tp aku jwb gini “tuyul jaman skrg kamu kasih mainan jadul, coba kamu kasih play station”
    tau nggak apa komentarnya? “ngomong kok ga masuk akal, ini serius..”
    wkwkwk….
    22 February 2011 at 08:01 · Like

    Abib Habiburrohman wakakkaa. bener2 ngakak baca komennya bro Jang Tak. dibilang ga masuk akal sama orang yg lebih ga masuk akal.
    22 February 2011 at 09:43 · Like

    Feby Infamia Haha.. Inget cerita ini:
    Anak: Mama, benarkah Tuhan lahir dari seorang Perawan?
    Mama: Tentu Benar, nak.
    Anak: Apakah dia menghidupkan orang mati?
    Mama: Benar :)
    Anak: Apakah dia mati untuk menebus dosa dosa manusia untuk dirinya sendiri?
    Mama: Tentu..
    Anak: Apakah dia hidup lagi setelah mati di hari ketiga?
    Mama: ya..benar! :)
    Anak: Apakah dia naik ke surga dengan mengendarai pesawat jet?
    Mama: Hah? Siapa yang ngasih cerita gila itu ke kamu??!
    Hihi..

    22 February 2011 at 10:15 · Like
    Irres Ponorogo ‎@feby cyank : ceritamu g lucu blas.

    22 February 2011 at 10:28 · Like
    Irres Ponorogo Mereka yg kristiani mungkin akn tersinggung.

    22 February 2011 at 10:29 · Like
    Danny Wong wkkwkwkwwkw…

    22 February 2011 at 10:47 · Like
    Danny Wong intinya satu aja, kenapa mitos bisa ada, karena yg empunya mitos kagak mau memberitahu kenyataannya, kebenaran, spt suatu hal sy bisa begini atau begitu, dan ketika di tanya sy membohongi kenapa? karena saya tidak berniat mengajarkannya kepada anda itu aja sebab muasalnya munculnya mitos2 yg berhubungan dgn kemampuan seseorang.

    22 February 2011 at 10:50 · Like
    Danny Wong sama aja acara2 di TV yg ngakunya reality atao apalah = hoax juga kan bohongan.

    22 February 2011 at 11:04 · Like
    Abib Habiburrohman mas danny, masalahnya bukan si empunya mitos kagak mau ‘memberitahu’ kenyataannya, tapi si pembuat cerita itu gak bisa buktiin apa yang dia katakan sebagai ‘kenyataan’.
    btw, kayaknya udah semakin rasional nih abis jalan2 di IRiS ;p

    22 February 2011 at 12:53 · Like
    Arif VirKill Yulian Tentu banyak penyebab Mitos.
    1. Kecenderungan orang untuk ‘melebih lebihkan’ cerita.
    2. Apa yang seseorang lihat belum tentu merupakan apa yang sebenarnya terjadi.
    @Abib
    Alhamdulillah :)

    22 February 2011 at 13:53 · Like
    Taufik Amirullah Mitos itu ada sejalan sama menurunya budaya adat. Mitos tuh cuma perlu kita jaga karena itu mungkin termasuk budaya tradisonal. tapi gak usah percaya juga kali. cukup diinget, itu budaya bangsa yang harus kita lestarikan, bukan buat dipercaya. lau milih percaya tuhan atau mitos? :)

    22 February 2011 at 16:17 · Like · 1
    Abib Habiburrohman ‎@mas taufik, brarti menurut mas, kepercayaan mitos dengan kepercayaan trhadap tuhan saling menegasikan?

    23 February 2011 at 09:15 · Like
    Taufik Amirullah ‎@mas abib : maksudnya?? yang saya maksud itu seperti mitos nyai roro kidul, legenda tangkuban perahu, mbah priuk dll itu cukup kita jaga keaslian ceritanya, gausah dipercaya. karena setahu saya sih gak baik percaya sama begituan, nanti masuknya syirik :) disini saya menjawab komentar om danny wong di atas :)

    23 February 2011 at 11:25 · Like
    Danny Wong seringkali mitos itu pada awalanya bukan mitos , tapi penyampaian sederhana krp sekelompok org biar gampang di terima ma dia, seiring waktu yg namanya manusia suka di tamba tambai ceritanya biar keren, misal aja mitos naga, padahal naga itu bisa saja bentuk hewan purba alias dinosaurus yg di ceritkan pada orang, dan berkembang akhirnya di bilang naga itu hewan langit. @abib: wlwkwkwk pada intinya saya org yg sngat rasional kok, cuma itu aja gak mau dah cari musuh.

    23 February 2011 at 12:31 · Like
    Taufik Amirullah ‎@danny : maaf bung, sepertinya mitos naga itu bukan seperti yang anda katakan. setahu saya mitos naga itu sudah ada berabad-abad yang lalu.trus, mitos itu gak berkembang sama sekali, tapi cuma dijaga keaslianya sama masyarakat. jadi bukan di tambah-tambahin biar keren seperti yang anda maksud. kalau anda tidak percaya, tanyakan ke orang hindu, cina, atau orang eropa tentang sejarah naga.
    kalau di daerah saya sendiri(kalimantan) ada mitos tentang naga itu sendiri, dan menurut saya sudah cukup ‘keren’ tanpa harus ditambah-tambahin.
    CMIIW :)
    23 February 2011 at 12:44 · Like

    IRiS (Indonesian Rationalist Society) Mitos2 baru juga hadir, bahkan dari rahim modernitas. Misalkan bahwa orang bergelar Dr atau PhD pasti rasional dan ilmiah, enggak juga tuh kenyataannya. So, it could be that modern symbol is myth?
    23 February 2011 at 13:05 · Like · 1

    Danny Wong ‎@taufik: ya gak tau, kecuali kalo ada doraemon kita bisa pake mesin waktu liat dari aman asal muasalnya cerita itu wkkw,
    23 February 2011 at 13:11 · Like

    Danny Wong buset gan ane br sadar di sindir di tulisan topik di tas wkwkkwwkkw
    23 February 2011 at 13:14 · Like · 1

    Jang Tak mitos naga bukan dr dinosaurus, org jaman dulu tdk mengenal dinosaurus, dinosaurus baru dikenal di jaman modern melalui penelitian ilmiah
    23 February 2011 at 13:21 · Like

    Taufik Amirullah ‎@mas jang tak : I agreed :)
    23 February 2011 at 13:22 · Like

    Danny Wong ‎@jang tak: apa tidak mungkin di jaman itu masih ada sisa2 mahluk berwujud kek dinosaurus entah dalam hutan dalam lobang gunung kek atau jurang kek ata dala laut dan penampakan2nnya, buaya aja yg katanya termasuk spesies purba masih ada saat ini, apalagi 2000 tahun yg lalu. cuma sekarang dah punah jadi fosil .
    23 February 2011 at 13:24 · Like

    Taufik Amirullah ‎@danny : beda zaman kali om. dinosaurus tuh hidup di zaman mesozoikum, sedangkan manusia prasejarah yang paling tua aja hidup di zaman neozoikum. buaya=naga?? mereka aja tuh belom tau yang namanya dinosaurus kayak apa bentuknya. gak mungkin mikir sampe situ bang :)
    23 February 2011 at 13:28 · Like

    Jang Tak coba perhatikan gambar naga dan dinosaurus yg kita kenal, beda banget kan? meski ditemukanpun pasti berupa potongan tulang, jd itu merupakan gambar seni yg diimajinasikan.
    dinosaurus berumur jutaan taon, sedang nenek moyang manusia yg paling tua (bukan kera) “homo sapien” masih berumur ribuan taon (kl ga salah masih dibawah 10rb taon) jd tdk mungkin mereka “bertemu”
    23 February 2011 at 13:28 · Like

    Taufik Amirullah ‎@jang tak: beda zamanya itu jauh banget kok. mesozoikum itu 150jt tahun yang lalu. neozoikum(mulai banyak mamalia, termasuk manusia kera0 tuh 60jt tahun yang lalu. itu juga masih manusia kera, belum mengenal fod producing, apalagi ttg mitos, agama, dan sejenisnya.
    23 February 2011 at 13:32 · Like · 1

    Jang Tak betul sekali, lagian manusia cerdas itu (bukan kera) adanya baru ribuan taon yg lalu (cmiiw)
    23 February 2011 at 13:37 · Like

    Arif VirKill Yulian Nonton naked science discovery channel tentang “what is human?” Disitu dijelaskan secara ilmiah tentang evolusi manusia secara baik. Termasuk kapan kemunculan manusia pertama gan bukti bahwa seluruh manusia di dunia berasal dari satu keturunan.
    23 February 2011 at 19:32 · Like

    Taufik Amirullah ga ada discovery chanel T,T
    23 February 2011 at 19:42 · Like

    Arif VirKill Yulian Oh, itu bukan dari TV. Tapi dari koleksi video kepustakaan IRiS. Ada banyak mulai dari penjelasan stonehenge, segitiga bermuda, hantu, telepati, vodoo/santet, alien, dan masih banyak lagi. Isinya komplit, wawancara, penjelasan ilmiah, duplikasi peristiwa, dll. Koleksinya sekitar 50 giga untuk video. Buku2 ilmiah dalam bentuk ebook juga banyak. Kalau ikut gathering IRIs bisa copy. :)
    23 February 2011 at 21:09 · Like

    Taufik Amirullah kalo saya sumber cuma dari pelajaran sejarah+buku sekolahan :)
    kapan mau ada gathering??
    23 February 2011 at 21:28 · Like

    Arif VirKill Yulian Untuk di jogja sih hampir dua minggu sekali.
    23 February 2011 at 22:24 · Like

    Taufik Amirullah mauu ikuuut:3 tapi jauh, palingan cuma bisa pas libur-,- aduduuh
    24 February 2011 at 04:55 · Like

    Arif VirKill Yulian Kabarin aja kalau ada rencana ke jogja mas.
    24 February 2011 at 06:55 · Like

    Adityo Saputra Mau tanya dong soal ad hominem, kemarin ini saya menyaksikan debat antar calon ketua suatu organisasi, kemudian ada yang mengatakan bahwa salah satu calon ketua tidak kompeten dengan alasan bahwa calon ketua itu tidak terlibat dalam kepanitiaan sebuah acara.
    Apakah yang seperti itu termasuk Ad Hominem?
    Saya sudah baca-baca di wikipedia tapi sepertinya tetap agak susah untuk membedakan apakah suatu argumen yang mengangkat latar belakang seseorang relevan atau tidak relevan.
    Mohon pencerahannya……
    9 April 2011 at 14:23 · Like

    Nova Wirawan ijin zhare ya,admin…
    7 August 2011 at 20:23 · Like

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *