Debus Training Report

Ketika kulihat jarum, peniti, obor dan benda-benda aneh didepanku…Jujur, kurasakan tanganku tak mau berhenti bergetar…Keringat dingin mengalir dari sela-sela rambutku dan jatuh menetes dari ujung hidungku..Tubuh yang penuh dengan peluh dan henti-hentinya menggigil menambah beban pikiranku…Latihan mental dan fisik yang kujalani selama bertahun-tahun seolah tak berguna…Kesemua itu membuatku sempat berpikir untuk berhenti dan lari dari kenyataan yang harus aku hadapi..

Tapi…Aku tak akan lari…Aku tak akan berhenti…Ini dedikasi…Ini demi mencari rasionalitas atas sebuah fenomena….

Yah, kurang lebih demikianlah perasaan yang terus berkecamuk di batinku ketika pertama kali melihat jarum peniti yang berjejer dan api yang tak henti-hentinya membara di depan mata. Namun Gus Tomi paham betul dengan apa yang aku hadapi saat itu, walau aku berusaha menutupinya dengan mengontrol mimik wajahku dan irama nafasku. Sembari mempersiapkan peralatan dan men-sterilkannya, ia kemudian sekali lagi memberikan motivasi yang akhirnya bisa membakar semangatku hingga akhirnya aku benar-benar melakukannya.

No Pain No Gain !!”

Demikian kata Gus Tomi yang terus mengiang di telingaku ketika kusaksikan sendiri jarum peniti menembus kulit tanganku. Dengan teknik yang sudah diajarkan Gus Tomi, aku berusaha mengontrol rasa sakit serta ketakutanku. Nampaknya teknik itu benar-benar ampuh. Dan aku tidak merasakan rasa sakit… Wow! Aku seakan terbang kelangit, dan merasakan sensasi kesaktian…yang hanya dilakukan dalam hitungan menit…tanpa harus mendatangkan mahkluk halus atau alien.

Aku benar-benar merasa telah sakti sekarang..Ditusuk2 seperti sate, namun tak setetespun darah keluar. Huahaha! Kubayangkan diriku tertawa terbahak2 seperti di film2 silat. Momen yang akan merubah persepsiku tentang kesaktian ini tak kulewatkan dengan beberapa pose narsis (atau lebih tepatnya alay) dengan beberapa foto. Mengingatkan detik inilah nalarku mengalami revolusi perubahan paradigma.

Setelah semua prosesi tusuk jarum selesai, kemudian Gus Tomi bergegas menyiapkan pelatihan kedua. Yakni, permainan menghadapi api. Di sinilah sebenarnya mentalku diuji. Aku benar-benar tidak biasa menghadapi api.

Pada awalnya, sangat sulit bagiku untuk memulai permainan ini. Namun, sekali lagi Gus Tomi mengingatkan dengan kata-kata andalannya,”No Pain No Gain !!”. Setelah menyelami dan menelusuri relung2 ketakutanku…kusadari ternyata yang membatasi realitasku adalah pikiranku. Api memang panas. Tapi ketakutanku terhadap api selama ini yang membuatku apriori untuk mencoba berjalan diatasnya. padahal ada yang bisa? Hingga akhirnya aku membulatkan tekad dan…Aku benar-benar berhasil melakukannya! Permainan dengan api yang pertama adalah menjajal kekebalan tubuh terhadap panas api dengan media koran. Hampir seluruh bagian tubuhku dijilati api dengan mesra, sehingga bulu2ku ikut terbakar…namun aku tetap sakti dan tak terasa apapun.

Setelah itu, masuk permainan kedua yakni, permainan berjalan di atas nyala api atau bara api. Permainan ini pun bisa aku lewati dengan mudah walau harus diakui ada rasa takut yang sempat menghantuiku pada awalnya. Dan terakhir adalah permainan api paling mengasyikan yakni, permainan bola api. Yang kami lakukan bukan hanya sekedar menendang-nendang bola api seperti pertunjukan debus yang biasa dipertontonkan. Kami juga  memainkan bola tersebut dengan menggunakan kedua tangan kami. Agak ekstrim memang, tapi benar-benar mengasyikan.

Hal yang aku pelajari pelatihan itu  adalah bahwa segala bentuk atraksi physical feats sebenarnya soal bagaimana kita membebaskan pikiran kita dan eksplorasi diri atas ketakutan. Dengannya kemudian kita dapat memahami arti dari rasa sakit yang sebenarnya. Dengannya kita dapat mengerti batasan-batasan kemampuan diri kita. Dengannya kita juga dapat mengukur dan kembali mengenali diri kita secara utuh. Tak mengeherankan bahwa seorang Grand Master Kyokushin Karate, M. Oyama, berkata, “…respect the pain..”. Rasa sakit bukan untuk dijauhi dan ditakuti. Rasa sakit ada untuk mengingatkan kita sebagai manusia bahwa kita adalah makhluk lemah dengan segala keterbatasan yang sudah dikodratkan Ilahi. Karenanya, hormatilah ia sebagai pengingat akan eksistensimu di dunia ini.

Kata pertama yang aku ucapkan pada diriku setelah  aku menjalani semua itu adalah: ”I congratulate you Bill…you’re getting stronger now, mentally and physically. And you have found the other side of yourself.. the other You. Your existence in this world is more meaningful than before. You’re almost complete yourself..and find The True You”.

 One more, Don’t Just believe before you prove it!

One Comment

  1. Jiwa Negara Yanik Menarik sekali, hilangkan rasa takut. Trus kok gak berdarah ya, secara ilmiahnya gimana ya?
    8 May 2011 at 15:58 · Like

    IRiS (Indonesian Rationalist Society) rahasianya sedikit belajar anatomi pak…jangan di bagian yang ada pembuluh darahnya.
    8 May 2011 at 17:33 · Like · 2

    Jiwa Negara Yanik ooo makasih Pak infonya. Tapi dulu ada temen saya, ini bukan acara debus2an, tapi dalam acara party senda gurau gitu. Dia ambil pisau yg tajam, trus diiris dadanya, ya tergores memang, cuma gak berdarah. Saya tanya rahasianya, dia bilang sama kayak diatas, mengalahkan rasa takut. Yg masih kepikiran kok gak berdarah, karena itu irisan, kenapa kulitnya hanya tergores doang, padahal pisau tajam. Kalo jarum atau peniti bisa ngerti saya. Makasih Pak.
    9 May 2011 at 02:31 · Like

    IRiS (Indonesian Rationalist Society) pisaunya pasti pisau buah ya?
    9 May 2011 at 08:36 · Like

    Jiwa Negara Yanik triknya gimana tuh Pak? :D
    9 May 2011 at 08:54 · Like · 1

    Rizky Lia Pratiwi wah tulisan paragraf 1,2,3 bikin ngakak…slamat bill!
    9 May 2011 at 12:57 · Like

    Jiwa Negara Yanik ‎@gothicavian: Makasih infonya, nice
    10 May 2011 at 11:40 · Like · 1

    Tamam Ayatullah Malaka ‎:
    [bahwa segala bentuk atraksi physical feats sebenarnya soal bagaimana kita membebaskan pikiran kita dan eksplorasi diri atas ketakutan. Dengannya kemudian kita dapat memahami arti dari rasa sakit yang sebenarnya. Dengannya kita dapat mengerti batasan-batasan kemampuan diri kita. Dengannya kita juga dapat mengukur dan kembali mengenali diri kita secara utuh.]
    MANTAP BOS
    12 May 2011 at 13:29 · Like · 1

    Muhammad Karsy Situmeang mencerahkan..!
    2 August 2011 at 18:27 · Like

    Perdana Akhmad Bin Ahmad mind control :)
    5 September 2011 at 12:06 · Like

    Asep Nurjaman Dingding tebal yang selama ini menyelimuti pikiran dan nalar sehatkuselama ini, sekarang sudah mulai retak dan mulai ada celah yang menembuskan cahaya ke seluruh alam bawah sadarku. thaks Gus Tomi. Bill, dan Dhicha (dhika)
    11 October 2011 at 19:56 · Like

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *