Ilmu Pengetahuan, Ilmu Pengetahuan Palsu ataukah Mistisme?

[table_of_contents] Apakah yang membedakan ilmu pengetahuan dan bukan ilmu pengetahuan pengetahuan? Untuk menjawab pertanyaan ini memang kita tidak bisa dilepaskan dari sejarah pengetahuan manusia. Dahulu kala, antara pengetahuan dan mitos berbaur menjadi satu sebagai sebuah penjelasan. Perbauran inilah yang biasa kita kenal dengan mitologi, perpaduan antara ‘mitos’ dan ‘logos’, sehingga kita mengenal banyak mitologi dalam setiap peradaban bangsa.

Jaman pencerahan Eropa, aukflarung, membawa sebuah gelombang baru kemajuan ilmu pengetahuan dengan membebaskan diri dari belenggu ‘mitos’ di Eropa yang diciptakan oleh kekuasaan. Kekuasaan para pendeta, raja, dan kekuasaan para tabib dan dukun. Dari sinilah titik awal pencerahan dengan menempatkan pengetahuan sebagai ujungnya mulai di buka.

Lantas, apakah ilmu pengetahuan itu?

Science (ilmu pengetahuan)

Ilmu pengetahuan itu memenuhi kriteria empiris, atau dapat dibuktikan. Ilmu pengetahuan selalu menempatkan obyek pengetahuan sebagai sesuatu yang dicari penjelasaanya. Jadi dalam pengetahuan ada sistematisasi yang diperoleh dari observasi, kajian dan percobaan. Dengan ilmu pengetahuan juga kemudian sebuah obyek dapat dikembangkan dan dimanfaatkan dalam kehidupan manusia. Makanya fisika, kimia, matematika, kedokteran sangat berguna dan membuktikan dapat dimanfaatkan dan dikembangkan untuk kepentingan manusia. Apakah semua bisa dijelaskan dengan pengetahun? tentu belum, namun seringkali mitos yang mengekang upaya pengetahuan untuk mencari penjelasan.

Pseudoscience (ilmu pengetahuan palsu)

Pengetahuan barat ini juga membawa pengaruh yang cukup kental dalam kehidupan manusia modern. Apa yang kita sebuat sebagai mitos baru, yaitu memusatkan semua penjelasan pada kategori ilmiah bukan pada proses ilmiahnya. Kategori ilmiah ini bisa berupa gelar, kampus, nama2 yang aneh, dan semacamnya. Singkatnya apapun yang disebut dengan bahasa2 yang seperti ilmiah, ada penjelasannya, oleh orang yang bergelar, seakan akan sudah bisa disebut ilmu pengetahuan. inilah yang dikritik oleh Hokheimer dan adorno, bahwa modernitas justru kadang melahirkan irrasionalitas baru, yaitu simbol pengetahun bukan pengetahuan itu sendiri.

Yang terjadi biasanya adalah, diantara tarikan antara mistos dan logos, sesuatu yang mitos namun dipaksakan sebagai keilmuan rasional. Nah yang bisa kita kategorikan pseudoscience adalah, astrologi, hongsui, parapsikologi, dan semacamnya. Ada beberapa indikator dari pseudoscience; isolasi (tertutup, karena penarikan kesimpulan asal jawab), teori apapaun bisa dibenarkan (non falsibility), tidak bisa dikoreksi, dan banyak lainnya.

Pengetahuan memberikan ruang untuk di kritisi, direvisi bahkan dinegasikan

Klenik’isme

Sedangkan kategori ini memang tidak bisa dipertemukan dengan ilmu pengetahuan. Klenik’isme hanya dipercaya dan menjadi bagian dalam sebuah kehidupan. Klenik’isme adalah cara berpikir yang secara apriori menerima apapun yang pernah dilihat oleh mata, pernah didengar, pernah dirasakan tanpa dirasakan kembali. Perbedaannya adalah,Klenik’isme  dapat disentuh (dipelajari) ilmu pengetahuan, sedangkan ilmu pengetahuan tidak dapat disentuh Klenik’isme.

 Mengapa ilmu pengetahuan yang dipilih sebagai jalan? Jawaban sederhananya, karena ilmu pengetahuan memiliki metode sendiri yang mampu merevisi dirinya sendiri. Pengetahuan memberikan ruang untuk di kritisi, direvisi bahkan dinegasikan. Hal ini yang tida pernah ditemukan dalam pseudoscience dan kenikisme.

salam

A. Pattingalloang

IRIs (Indonesian Rationalist Institute)

outline singkat hasil diskusi IRIs, Suro Jum’at 25 pahing 1939

One Comment

  1. IRiS (Indonesian Rationalist Society) respon dari tamam:
    Tamam Ayatullah Malaka
    perpaduan antara ‘mitos’ dan ‘logos’. Yang terjadi biasanya adalah, diantara tarikan antara mistos dan logos, sesuatu yang mitos namun dipaksakan sebagai keilmuan rasional.
    Ulasan yang amat menarik. Pada kenyataannya memang demikian. Banyak terjadi di mana mitos, dg berbagai bentuk dan jenisnya, diupayakan sebagai keilmuan rasional.
    Meski begitu, saya mencoba mengetengahkan ulasan lain yang barangkali berbeda. Semoga saja, menarik minat untuk didiskusikan lebih lanjut.
    Terkait mitos dan logos, saya mengambil analisis dari filusuf Fransfurt—Khokheimer—tentang mitos dan logos. Baginya, mitos itu sebenarnya juga logos (pengetahuan). Tetapi orang modern salah paham tentang mitos karena menganggap mitos sebagai `sampah` dan sisi gelap (baca:kebodohan) orang (peradaban) timur. Artinya, mitos dianggap tidak memiliki nilai apapun selain tahayyul dan sejenisnya. Dia menegaskan bahwa mitos sesungguhnya merupakan logos, dimana ia menyimpan nilai filosofis yang luar biasa.
    Jika kita simak di zaman ini, mitos-mitos yang dianggap sampah oleh manusia modern, nyatanya adalah penyelamat orang modern dari kemusnahan dirinya. Contohnya adalah meditasi, atau lebih tepatnya, spritualitas kini paling banyak diburu mereka. Bahkan mewarnai dan memengaruhi bidang paling dalam mereka, seperti ilmu psikologi. Dengan penemuan semisal Emotional Quotient/Spritual Quotient.
    Psikoanalisis modern, Erich Foom, mengatakan bahwa orang modern mengalami keterbelahan jiwa, disebabkan penolakannya terhadap yang adikodrati, yang gaib, yang emosional dalam dirinya.
    Dan terbukti, kini orang barat sangat terpukau dengan fenomena semacam hongsui, parapsikologi, meditasi, dan semacamnya.
    Maka, saya kok kurang setuju tentang mitos sebagai sesuatu yang `omong kosong` dan sebagai sesuatu yang tidak menyimpan nilainya. Dan, apakah segala sesuatu harus selalu dinyatakan dalam sifatnya yang materil?
    Tetapi, saya belum sepenuhnya paham, apakah yang dimaksud dengan `pengetahuan palsu` secara spesifik?
    Salam untuk semuanya. Love u all
    29 January 2011 at 11:45 · Like · 1

    IRiS (Indonesian Rationalist Society) BALASAN: Gustomy Rachmad
    Nimbrung, menarik untuk dilanjutkan…
    setahu saya, jika benar yg anda maksud Hokheimer (yang anda sebut “Khokheimer”) yang dari frankfrut (yang ini tidak dari “fransfrut”), saya justru membaca secara berbeda. ini setahu saya, dia sama Adorno menulis sebuah buku yg judulnya ‘Dialectic of Enlightenment’, yang intinya justru menolak “mitos-mitos” baru yang muncul dalam rasionalitas modern. karena dalam diktum modernitas, teknologi dan semacamnya diramalkan akan menciptakan rasionalitas pada masyarakat modern. Justru menurut mereka saat inilah kemudian lahir irrasionalitas baru seperti iklan, mitos kecantikan, dll. Konsep inilah yang dilanjutkan oleh Habermas, yang menilai bahwa irrasionalitas baru itu muncul karena semua hal masuk wilayah komodifikasi.
    Jadi menurut saya argumen anda kurang tepat jika mencantol pada logika yang dibangun oleh Hokheimer dari Frankfrut (sekali lagi jika benar itu yang anda maksud).
    Soal Erich Fromm (mungkin salah ketik Foom), memang tidak dapat dipungkiri bahwa dia menganggap mitos adalah hal yang integral dari proses personality. Mungkin dengan alasan inilah dia menyeberang dari psikoanalisis Freudian, yang baginya terlalu rasionalis. Mungkin saya sepakat pada dimensi supra-rasional (konsep ketuhanan, dll) yang dia utarakan. Namun, saya yakin seandainya dia hidup pasti juga sependapat dengan saya untuk menolak melihat kebohongan ‘dukun’ atas nama penjelasan ‘ilmiah’ kemudian mengeruk uang orang-orang yang sudah putus harapan.
    Soal Pseudo Science, memang ada perdebatan epistimologi dan ontologi soal apa itu ilmiah atau tidak. anda tahu bukan bahwa apapun bisa diperdebatkan dalam ranah filsafat? Namun, jika anda menemukan sebuah fenomena, kemudian diidentifikasi dengan penjelasan dari fenomena lain, apakah itu tepat? Anda mungkin terbiasa menggunakan qiyas (analogi), namun ketika analogi itu yang menjadi pusat argumen, bukan alat penjelas, tentu anda paham itu sering disebut fallacy (sesat pikir).
    misalkan saja sekarang fenomena pelatihan otak tengah, yang banyak menggunakan istilah-istilah kedokteran. Namun definisi dan maksudnya sangat berbeda jauh dengan definisi keilmuan kedokteran. Disatu sisi, pelatihan ini menggunakan media, testimoni tokoh2 publik, dan hasil teknologi lain, padahal jelas-jelas itu palsu dan kebohongan dengan sulap tingkat rendah. Disinilah secara sederhana dapat ditempatkan sebagai “pseudo-science”. Bukankah ini yang justru dikritik oleh Hokheimer? Adalah rasionalitas semu yang menumpang pada capaian rasionalitas modern.
    luv you too all
    29 January 2011 at 11:45 · Like

    IRiS (Indonesian Rationalist Society) Gustomy Rachmad
    Oh ya menambahkan, soal Hongsui dan semacamnya itu sudah disenangi sejak lama di barat. Bahkan sejarah kegelapan Eropa juga tidak lepas dari konstruksi mistis, baik yang dibangun otoritas agama maupun lainnya. namun pada perkembangannya, lahir juga wacana pembanding yang mengbongkar irrasionalitas-irrasionalitas itu. sedangkan kita? samapai hari ini belum ada satupun wacana pembanding yang eksis. ada apa dengan bangsa ini? oleh karena itu sekarang kami hadir, minimal lewat facebook.
    29 January 2011 at 11:45 · Like

    IRiS (Indonesian Rationalist Society) Tamam Ayatullah Malaka
    Waduh, waduh. Anda yang betul mas Tomi. Saya terlalu terburu sewaktu menulis. Tetapi, itu kesalahan fatal yang kebangetan, hehe. Meski Shakespare (jangan2 ini jg salah lg??,haha) bilang apalah arti sebuah nama, tetap saja tak dapat ditoleransi di ruang ilmiah begini. Tapi, saya ini paling ribet soal nama. Apalagi asing, wedalahhh. Yang paling rumit contohnya (ini mutlak sy selalu keliru) adalah nietczhe,susah benar dicetak di otak..apalg dikertas..ck ck
    Oya, terima kasih jawabannya mas tomi. ada dua soal yang perlu saya detilkan setelah saya paham maksud artikel mas tomi. Pertama, rupanya ini terkait dengan mistisisme palsu (perdukunan). Kedua, saya beranggapan yang dimaksud adalah mitos dalam arti lebih luas dari sekedar wilayah itu. Misalnya, mitos2 yg berkembang di masyarakat yg berfungsi melestarikan alam semesta, dst.
    Saya rasa, jika dikaitkan dengan mitos perdukunan memang tidak nyantol krn yg sy maksud adalah tradisi dan mitologi yg lebih luas. Dan tdk dikhususkan kepada perdukunan.
    Barangkali, saya catut bagian posting lain yang cocok sebagai contoh:
    (Slametan menjadi mekanisme untuk memelihara nilai-nilai lokal seperti kebersamaan, kekerabatan, dan kerukunan. Bukan dijadikan sebagai perantara meminta kekuatan di luar manusia (mistis) untuk memberi keselamatan. Dengan demikian,adanya slametan tetap bisa sebangun dengan perkembangan modernitas jaman)
    Anyway,: (sedangkan kita? samapai hari ini belum ada satupun wacana pembanding yang eksis. ada apa dengan bangsa ini?)
    Selanjutnya, saya masih berusaha membaca beberapa posting. Luar biasa menarik. Semoga diskusi ini dapat berlangsung harmonis,hehehe. Yang pasti, saya suka dengan pemikiran IriS ini. Semula, saya pikir komunitas diskusi pemikiran seperti umumnya. Ternyata, memiliki spesifikasi yang unik. Saya tertarik mengikutinya, bikin pikiran nge-jreng,hehe
    salam..
    29 January 2011 at 11:46 · Like

    IRiS (Indonesian Rationalist Society) Tamam Ayatullah Malaka
    Anyway,: (sedangkan kita? samapai hari ini belum ada satupun wacana pembanding yang eksis. ada apa dengan bangsa ini?)
    sepakat!
    mari kita mulai…
    29 January 2011 at 11:46 · Like

    Feby Infamia Nice read! Ngomong2 kok ada postingan di wall yang dihapus? Yang ada = nya itu?
    29 January 2011 at 12:03 · Like

    IRiS (Indonesian Rationalist Society) Maaf Mbak, di hidden. Kalau member mau post nanti silahkan masuk ke discussion. buat treat disitu aja. Ya ini penertiban administrasi saja. Terimakasih
    29 January 2011 at 14:26 · Like

    Alex Reinhard ILMU PENGETAHUAN SIFATNYA DINAMIS. Dulu hypnosis dianggap hoax, skrng sudah diakui secara ilmiah. JIN ada di dalam al Quran tapi ilmu pengetahuan tidak bisa membuktikannya. Lalu apakah berarti Al Quran tidak valid krn science blm bisa buktikan wujud jin?? science pasti nantinya bisa mengakui adanya jin, hanya saja butuh waktu untuk membuat teknologi yg bisa menembus dimensi alam yg lebih halus.
    2 August 2011 at 16:16 · Like

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *