Pengujian Aktivasi Otak tengah ke 3 (IRiS vs siswa AJI)

Pada tanggal 11 Januari bertempat di Foodcourt Subha galeria mall, terselenggara pengujian non resmi antara IRiS dengan salah satu siswa AOT. Siswa yang diuji telah memiliki jam terbang demo yang sangat tinggi dan tampil beberapa kali di stasiun TV lokal. Video dokumentasi dari pengujian ini menjadi arsip IRiSd an hanya diperuntukkan bagi internal IRiS dan yang berkepentingan.

Laura (Nama samaran) dikenalkan lewat salah seorang mahasiswa psikologi UII kepada kami dan pada akhirnya diatur pengujian dengan menawarkan hadiah 3,5 juta jika sang anak terbukti mampu membaca dengan mata tertutup.Pengujian dilakukan pukul 19:30 malam hari dan setelah mendiskusikan tekhnik pengujian, segera dipasangkan penutup mata pada sang siswa. Selam hampir 20 menit penutup mata TIDAK berhasil dipasangkan kepada subjek karena subjek selalu mengintervensi dan menolak kami menurunkan pnutup mata untuk memastikan tidak ada celah pada penutup mata. Subjek mulai menangis dan mengkhawatirkan apabila tebakannya salah. Rekan rekan IRiS mencoba menenangkan dan meyakinkan bahwa tak ada dari kami yang bermaksud jahat dan satu satunya niat kami hanya memastikan subjek tidak mampu mengintip, namun sepertinya justru inilah yang paling ditakuti subjek sehingga akhirnya menangis dan meolak beberapa kali melakukan pengujian. Rekan rekan dari IRiS tidak mencoba memaksa dan menyatakan bahwa pengujian hanya akan dilakukan jika sang anak benar benar siap.

Pra pengujian pertama dilakukan dengan meminta subjek menebak sinyal jari yang menunjukkan angka dengan interval 1 sampai 5. Dalam 4 kali percobaan, akurasinya 0 persen (gagal semua).

Setelah subjek menangis sekian lama, (namun dipaksa/dibujuk oleh kakaknya) pengujian selanjutnya dilakukan dengan kartu remi dan menutup kepala sang adik dengan jaket. Setelah ditemani kedua orang tuanya, pengujian sempat terganggu karena sang ayah mencoba melakukan signaling. Pengujian dihentikan pada pukul 21.00 dan dinyatakan gagal.

Selanjutnya, IRiS masih memberi kesempatan untuk pengujian selanjutnya dilain kesempatan dengan suasanya yang lebih kondusif. beberapa hal yang dikeluhkan dan dijadikan excuse oleh peserta adalah:

- Musik (D’bagindas) yang terlalu keras dimainkan di foodcourt

- Keberadaan banyak orang asing (negatif, karena subejk telah berpengalaman menghadapi banyak orang asing dalam pengujian sebelumnya)

- Sesak nafas karena pernutup mata terlalu ketat (negatif karena penutup mata TIDAK sedikitpun menutup lubang hidung)

 

VirKill

IRiS (Indonesian Rasionalist Society)

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *